Workshop CMS Balitbang di Kabupaten Purbalingga dilaksanakan tanggal 23 sampai dengan 26 Juli 2011 bertempat di SMA Negeri 1 Purbalingga berlangsung lancar dan menyenangkan.
Tuesday, July 26, 2011
WORKSHOP CMS BALITBANG - PURBALINGGA
Labels: COMPUTER, EDUCATION, GENERAL Links to this post
Thursday, April 21, 2011
Selamat Jalan Franky Sahilatua ...
Indonesia kehilangan satu lagi musisi berbakat dan humanis, Franky Hubert Sahilatua yang dikenal dengan Franky Sahilatua telah tutup usia. Si 'Perahu Retak' itu kini berlayar ke sisi-Nya.Terjunnya Franky ke dunia musik adalah sebuah ketidaksengajaan. Cita-cita Franky belia kala itu ingin menjadi pelaut. Namun kedua orangtuanya, Hubert Johannes Sahilatua dan Theodora Joveva Uneputi-Sahilatua tak memberi izin.
Pria kelahiran Surabaya, 16 Agustus 1953 itu kemudian berkuliah di Akademi Akuntansi Surabaya. Tapi, musik telah memberi Franky pemasukan. Uang tersebut kemudian ia tabung sebagai modal ke Jakarta. Franky ingin masuk dunia rekaman.Franky kemudian merilis album 'Senja Indah di Pantai' berduet dengan sang adik Jane Sahilatua pada 1975. Bersama Jane, Franky menelurkan 15 album di bawah label Jackson Record. Sekitaran 1992-1993 lahirlah lagu-lagu kenamaan Franky yaitu 'Perahu Retak', 'Orang Pinggiran', 'Terminal' dan 'Di Bawah Tiang Bendera'.
Labels: GENERAL, SENI Links to this post
Thursday, October 29, 2009
CPNS Karesidenan Banyumas - 2009
Infomasi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil untuk karesidenan Banyumas tahun 2009 dapat di download di link-link di bawah ini :
CONTINOUS .....
[ Read More.... ] Read More......
Tuesday, August 4, 2009
MBAH SURIP MENINGGAL DUNIA
Tuhan tiba-tiba saja mengangkat derajat Mbah Surip dengan begitu cepat lewat tembang "tak gendong". Dari seorang gelandangan yang tak dilirik orang, sontak menjadi selebritis dengan kekayaan terakhir tercatat Rp82 miliar.Dan tiba-tiba saja, ketenaran Mbah Surip diangkat secara mendadak pula. Tuhan dengan cepat memangggil laki-laki yang tengah berada di titik kulminasi popularitas. Mbah Surip kini telah tiadaLaki-laki yang menggelandang di ibukota dengan mimpi terakhirnya ingin mempunyai sebuah helikopter ini menghembuskan nafasnya pada hari Selasa 4 agustus 2009 pukul 10.30. Menurut informasi, bah Surip di bawa ke RS Pusdikkes, Jakarta Timur."Meninggal pukul 10.30 WIB. Dibawa ke sini sudah meninggal," kata Ibu Omega, bagian rekap medis di RS Pusdikkes, Jakarta Timur. Belum jelas Mbah Surip meninggal karena penyakit apa. Dia meninggalkan 4 anak dan 4 cucu setelah 26 tahun menduda.
Innalillahi wainna ilaihi roo ji'un
Labels: GENERAL Links to this post
Friday, May 15, 2009
KOLEKSI GAMBAR ARSITEKTUR
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
[ Read More.... ]
Read More......
Labels: WALLPAPER Links to this post
MEMPERTANYAKAN KREATIVITAS
Belakangan, nama band D’Masiv kembali mencuat. Namun, kali ini tidak dalam catatan-catatan prestasi dan rekor penjualan nada sambung pribadi atau RBT, melainkan dalam hal yang tidak mengenakkan. D’Masiv dituduh sebagai plagiat.
Benarkah band yang beranggotakan Rian Ekky Pradipta (vokal), Nurul Damar Ramadhan (gitar), Dwiki Aditya Marsall (gitar), Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata (bas), dan Wahyu Piadji (drum) itu menjiplak? Apa tepatnya yang ia lakukan sehingga mendapat tuduhan sebagai plagiat?
Menurut wartawan musik Buddy Ace, lagu mereka yang berjudul ”Dilema” mencontek hampir semua bagian dari lagu ”Soldier’s Poem” yang dibawakan band populer asal Inggris, Muse. ”Notasi, pola ritme atau irama, cara memainkan gitar, hingga cara menyanyi Rian sama dengan Muse,” tutur Buddy.
Tak berhenti sampai di situ, band pemenang acara kontes band A Mild Rising Star 2007 itu juga dianggap mencontek lagu-lagu musisi luar negeri lain. Di YouTube, sejak enam bulan silam beredar video rekaman yang menjajarkan lagu-lagu band tersebut dengan lagu yang dianggap telah dijiplak.
Lagu ”Dan Kamu”, misalnya, dianggap menjiplak ”Head Over Heels (In This Life)” milik band Switchfoot asal San Diego, Amerika Serikat. Lagu Switchfoot lainnya yang berjudul ”Awakening” ”diambil” intro dan ketukan ritmenya dalam lagu ”Diam Tanpa Kata”.
Intro lagu ”Luka Ku” mirip dengan ”Drive”-nya Incubus. Intro lagu ”Cinta Sampai di Sini” juga persis dengan ”Into The Sun” milik band Lifehouse dari
”Racun”
Menurut Buddy, salah satu kelaziman dalam dunia jiplak menjiplak
D’Masiv menolak semua tudingan ini. Dalam jumpa pers yang digelar di Hard Rock Cafe Jakarta, 1 April lalu, vokalis Rian mengaku, dia dan grupnya hanya terinspirasi lagu-lagu dari musisi luar itu. ”Intinya, kalau aku bikin lagu tuh mengalir saja. Enggak pernah mikir. Seandainya ada kemiripan, itu pasti karena enggak sengaja. Kebetulan D’Masiv emang suka band-band kayak Muse, Switchfoot, Incubus. Kita emang terinspirasi banget sama mereka,” tutur Rian.
Bukan pertama
Sebenarnya kasus D’Masiv bukanlah yang pertama kali terjadi. Pada tahun 2005, grup Radja pernah dituduh menji- plak lagu ”Teardrops” dari The Radios untuk lagu mereka, ”Jujur”, dan ”Lately”-nya Stevie Wonder untuk lagu ”Tulus”. Waktu itu Radja berkilah kemiripan yang terjadi adalah murni kebetulan dan ketidaksengajaan (Kompas, 7/1/2007).
Belakangan, lagu ”I Love U, Bibeh” dari kelompok The Changcuters juga dituduh meniru lagu populer grup Creedence Clearwater Revival (CCR), ”Have You Ever Seen the Rain?” ”Kerangka lagu itu mirip banget dengan lagunya CCR,” ungkap gitaris Dewa Budjana.
Terlepas dari tanggung jawab moral setiap artis, pertanyaan yang lebih mengganggu adalah apa yang sebenarnya terjadi pada industri musik
Indrawati Widjaja, Presiden Direktur Musica Studios tempat D’Masiv bernaung, mengaku tidak tahu bahwa lagu-lagu D’Masiv menjiplak karya orang lain. ”Kami selama ini memberi kebebasan kepada artis untuk membuat karya sendiri. Peristiwa ini memang sangat disayangkan. Kami berharap ini menjadi pelajaran berharga buat D’Masiv. Tetapi, saya juga meminta agar masyarakat tidak mematikan karier D’Masiv. Bagaimanapun mereka adalah band baru yang belum berpengalaman dan belum mengerti aturan di industri musik,” tutur Ibu Acin, panggilan akrab Indrawati.
Ini sebenarnya bukan hanya pelajaran bagi dunia industri musik. Mengingat pola yang sama juga terjadi di bidang kreatif lain, seperti film, sinetron, acara TV, bahkan seni rupa kontemporer. Kita, pasti tidak ingin semata-mata menjadi bangsa dengan semangat epigonis.
by : DAHONO FITRIANTO dan BUDI SUWARNA
Source : http://cetak.kompas.com
Labels: GENERAL Links to this post
Sunday, April 26, 2009
Teknologi Informasi Kunci Demokrasi
Tujuan Komisi Pemilihan Umum membangun infrastruktur dan sistem teknologi informasi adalah untuk mengumpulkan dan memublikasikan hasil perolehan suara pemilu di semua tempat pemungutan suara dengan cepat, akurat, dan transparan. Ini penting untuk mengatasi kendala sistem pemilu yang lebih rumit, khususnya pada pemilu legislatif, kondisi geografis yang sangat beragam dan tersebar, serta keterbatasan sarana dan prasarana, baik transportasi maupun telekomunikasi. Penyampaian informasi yang cepat dan akurat dapat memberi masyarakat kesempatan ikut secara langsung mengawasi proses penghitungan suara per TPS yang bisa dipantau melalui situs http://tnp.kpu. go.id/. Dengan demikian, proses penghitungan suara menjadi lebih transparan, jujur, dan adil. Masyarakat langsung memantau adanya penyimpangan atau perbedaan perolehan suara dan melaporkan adanya perbedaan itu kepada Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) setempat. Di samping fungsi pengawasan, proses penghitungan TI menampilkan pergerakan perhitungan suara secara bertahap sehingga perkembangan perolehan suara dapat diikuti dari waktu ke waktu, dan masyarakat diharapkan lebih dapat menerima hasilnya. Ini terbukti dengan hasil Pemilu 2004 yang dapat diterima semua pihak, termasuk partai yang pada saat itu berkuasa. Dasar penghitungan suara adalah perhitungan di TPS yang tercantum dalam formulir C1-IT dan disahkan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Hasil perolehan suara dalam formulir C1-IT langsung dibawa ke kecamatan atau PPK. Pemilihan lokasi di kecamatan disebabkan kondisi geografis Indonesia yang luas dan jumlah TPS yang harus dimasukkan ke dalam sistem penghitungan suara. Waktu untuk membawa formulir C1-IT dari TPS ke kecamatan akan jauh lebih cepat daripada membawa formulir C1-IT dari TPS ke kabupaten atau kota sebagai lokasi untuk data entry (KPU daerah). Formulir didigitalkan oleh relawan data entry dan sebelum dikirimkan ke KPU pusat, data tersebut diverifikasi dahulu oleh PPK dan ditandai dengan diberikannya semacam personal identification number (PIN) khusus kepada PPK setempat. Setiap PPK di seluruh Indonesiamempunyai PIN khusus ini. Setelah PIN dimasukkan PPK, data dikirim setiap satu jam. Pertimbangannya, untuk memasukkan data dari formulir C1-IT dibutuhkan waktu paling tidak lima menit per TPS (jumlah formulir ada empat buah, masing-masing untuk hasil DPR, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota, dan DPD). Dengan satu komputer saja per jamnya dihasilkan 12 TPS atau 144 TPS per hari per komputer. Pengiriman dapat dilakukan karena KPU membangun infrastruktur di kecamatan melalui PT Telkom (2.659 kecamatan) dan PT PSN (1.850 kecamatan), serta menambah perangkat komputer di kecamatan untuk Jawa dua buah dan luar Jawa satu buah. Dalam proses pengiriman, data diamankan menggunakan enkripsi dan message digest untuk menghindari penyadapan dan perubahan data selama pengiriman. Setelah data diterima server dan diverifikasi oleh server yang dinamakan submission server, data tersebut diteruskan ke server lain atau data warehouse untuk ditampilkan di internet (http://tnp.kpu.go.id). Data tersebut juga disampaikan ke sejumlah parpol dan televisi sehingga masyarakat dapat mengikuti proses penghitungannya. Data yang ditampilkan adalah data mulai dari DPR, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota, dan DPD (Dewan Perwakilan Daerah). Di samping itu, disediakan juga helpdesk untuk membantu operator di seluruh Indonesia yang bertugas selama 24 jam sehari. Secara umum proses pada sistem 2009 hampir mirip dengan yang dilakukan tahun 2004. Prinsipnya, mengambil data per TPS dengan diadakannya formulir C1-IT yang kemudian dikirimkan ke kabupaten/kota. Perbedaan utama adalah metode untuk memasukkan data dari TPS yang menggunakan basis kabupaten/kota dan penggunaan teknologi intelligent character recognition (ICR) yang berbasis pemindai. Data dalam bentuk teks tersebut sebelum dikirimkan ke Data Center KPU dilakukan enkripsi agar tidak mudah dipalsukan atau diubah di tengah jalan (intercept). Kemudian di server KPU pusat, data yang telah dienkripsi di buka kembali (dekripsi), divalidasi, dimasukkan ke data warehouse server, dan baru ditampilkan di internet melalui situs http://tnp.kpu.go.id. Pada penjelasan teknis tim IT KPU 2009 di bawah koordinasi BPPT yang dirilis pada situs blog, http://tipemilu2009.wordpress. com/2009/04/06/mengenal-icr/, sistem yang digunakan adalah ICR. Adapun diagram kerjanya dapat dilihat di bawah ini. Persoalan yang muncul adalah keterlambatan data masuk ke Tabulasi Nasional Pemilu (TNP). Masalah ini sebenarnya sudah dapat diduga sejak awal. Titik kritis persoalan adalah lokasi untuk melakukan data entry yang diputuskan di kabupaten/kota. Ada waktu yang cukup lama untuk membawa semua hasil di TPS (form C1-IT) ke kabupaten/kota yang jaraknya bervariasi antara satu lokasi dan lokasi lain. Faktor lain adalah jumlah formulir sebanyak 8 lembar per TPS membuat lama proses pemindaian (pindai, edit, simpan, dan kirim). Selain itu, perangkat dan sarana-prasarana pendukung yang disediakan di kabupaten/kota tidak mencukupi untuk mengelola karena TPS yang jumlahnya bisa mencapai ribuan di wilayah KPU daerah. Di Kota Bandung, misalnya, ada sekitar 1,5 juta penduduk, dengan jumlah per pemilih per TPS rata-rata 300, maka akan ada 5.000 TPS untuk setiap formulir C1-IT yang harus dipindai, edit, dan simpan. Jika setiap formulir C1-IT membutuhkan lima menit, maka per jam dihasilkan 12 formulir, dan kalau dilakukan 24 jam nonstop hanya dihasilkan 144 formulir C1-IT per TPS per komputer. Jika ada dua komputer, akan dihasilkan 288 TPS per hari. Sedangkan jumlah TPS mencapai lima ribu, dan untuk melengkapi semua hasil TPS akan dibutuhkan waktu 18 hari (kalau tidak terjadi persoalan teknis lainnya). Perbedaan lain yang mendasar adalah tidak terlihat adanya mekanisme untuk melakukan metode koreksi kesalahan dengan cepat dan hanya dilakukan proses untuk DPR, sedangkan DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota dan DPD tidak dilakukan KPU (tim IT KPU). Keterlambatan terjadi di TNP disebabkan antara lain business process yang tidak dipahami secara menyeluruh oleh perencana sistem dan dampak yang ditimbulkannya, pengambilan keputusan untuk melakukan data entry, atau scanning formulir C1-IT di kabupaten/kota tidak disertai perencanaan operator memadai. Ketidakjelasan prosedur standar operasi (SOP) untuk melakukan proses digitalisasi formulir data C1-IT dan teknologi ICR sendiri yang tingkat ketelitiannya masih tidak dapat mencapai 99 persen. Melihat masalah yang terjadi terkait kasus yang muncul belakangan ini, terutama berhubungan dengan kelambatan proses penghitungan suara, proses pemindaian, sebaiknya dilakukan dengan menambahkan jumlah pemindai, komputer, dan operator untuk data entry. Besarnya penambahan sarana dan prasarana tergantung jumlah pemilih di suatu daerah, walaupun solusi ini mungkin sulit dilakukan mengingat proses pengadaan barang membutuhkan prosedur yang tidak mudah. Selain itu, mengingat waktu sangat terbatas, sebaiknya data setiap formulir C1-IT di setiap TPS dimasukkan dengan cara diketik melalui program sederhana, diverifikasi oleh KPU daerah, dan dikirimkan ke Data Center KPU. Dengan mengerahkan semua sumber daya, KPU dapat mengatasi ketertinggalan data yang seharusnya mencapai 70 persen hingga hari ini. Teknologi informasi juga dapat dilakukan untuk proses pembaruan pendaftaran pemilih daftar pemilih tetap (DPT) pilpres I. Dengan waktu yang sangat ketat, updating data DPT hanya bisa dilakukan menggunakan teknologi informasi secara hati-hati dan tepat. Berbasis pada KPU daerah, KPU dapat menyediakan sistem yang dengan cepat digunakan untuk updating data pemilih pilpres, sekaligus melakukan pemantauan distribusi logistik hingga ke titik TPS yang dituju. Teknologi yang ada terutama yang dimiliki KPU 2004 dapat juga digunakan untuk proses penghitungan suara di Pilpres 2009. Teknologi tahun 2004 terbukti dengan cepat dapat memberikan hasil yang tingkat keakuratannya di atas 99 persen. Dengan keakuratan dan proses yang dapat diverifikasi dengan cepat, masyarakat berharap proses pemilu ini jujur dan adil. Perlu dipertimbangkan juga adanya UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, di mana dinyatakan pada Bab III Pasal 5 Ayat 1, informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah. Ayat 2 menyebutkan, informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya sebagaimana dimaksud pada Ayat 1 merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan hukum acara yang berlaku di Indonesia. Ayat 3, informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dinyatakan sah apabila menggunakan sistem elektronik sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam UU ini. Ayat 4, ketentuan mengenai informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik sebagaimana dimaksud pada Ayat 1 tidak berlaku untuk surat yang menurut UU harus dibuat dalam bentuk tertulis. Berbasis pada undang-undang ini, data yang dihasilkan dari formulir C1-IT dapat juga dijadikan sebagai dasar hukum untuk penghitungan suara dan dapat secara sah diakui juga hasilnya sehingga teknologi informasi dapat memberikan sumbangsih yang besar pada proses demokrasi di Indonesia..
Labels: EDUCATION, IT OPINION Links to this post
Thursday, April 9, 2009
TRIK SEDERHANA MENGHINDARI VIRUS
Tulisan ini kutuangkan, setelah sekian lama aku mencoba bertahan,.... ada kebutuhan IT, ada resiko IT, dan para pengguna umumnya sudah tidak asing lagi... ada faktor gangguan dan resiko .... yaitu VIRUS
1. Virus itu sifatnya merusak
2. Virus selalu berkembang sesuai perkembangan dunia IT
3. Virus berkembang dari sistem operasi yang rentan
4. Virus umumnya menyerang file-file dokumen office
5. Penggunaan software bajakan rentan terhadap virus
6. Penggunaan software crack rentan terhadap virus
7. Virus dapat dihilangkan
8. Virus menjadi bagian tantangan
Dari realita-realita di atas, penanganan yang tepat "menurut saya" adalah ...
1. Install sistem operasi dari kondisi nol ( partitioning )
2. Install software anti virus ( penulis menggunakan Avast 4.80 Home... yang gratisan )
3. Update Anti virus
4. Scan seluruh Harddisk ( C : D : E : ... dst, juga Flashdisk-nya.... )
5. Kalau ditemukan virus, delete saja... biar kapok....
6. Setelah selesai Scan and Clean Virus, lakukan instalasi software-software tambahan, misal Microsoft Office, Adobe, Macromedia, Utility,.... dll ( kondisi anti Virus Scan Protection dalam kondisi ON ), sehingga apabila ada virus yang menempel di "Master suatu aplikasi" akan segera terdeteksi.
7. Selesai dech prosesnya....
8. semoga setelah langkah ini dilakukan dengan benar, komputer anda akan aman dari virus
9. Dalam kondisi ini, biasanya hasil "Clean" dari anti virus langsung men"delete" file-file penting anda yang terkena virus.
10. Jangan khawatir.
11. Lakukanlah langkah-langkah berikut ( untuk mengembalikan file yang terhidden oleh virus :
- Perhatikan posisi Partisi / FlashDisk yang akan anda kembalikan File yang hilang ( apakah C, D, E atau F )
- Lalu masuklah ke > Start > All Program > Accessories > Command Prompt .
- Lalu posisikan arah pembacaan ke arah Partision dan Flash Disk Anda
- Misalnya FlashDisk Anda di E:>> maka ketiklah
E:>>Attrib -s -r -h /s /d
- Bila langkah tersebut berhasil, berarti Anda Telah Aman dari Virus
Selamat mencoba
[ Read More.... ] Read More......
Labels: TRIK Links to this post
CATEGORIES
- COMPUTER (12)
- EDUCATION (3)
- GENERAL (4)
- IT OPINION (4)
- LIVE MANAJEMENT (1)
- NETWORK (2)
- Recovery (1)
- SENI (1)
- TRIK (1)
- WALLPAPER (1)



